Jika Ini Baik Untukmu
Masih tidak bisa dipercaya, sangat tidak bisa dipercaya. Pria itu kembali mampir di mimpiku tadi malam. Dengan senyum yang khas, rasa nya semakin rindu di buat oleh nya. Semenjak kejadian itu, kejadian di ujung telephone memang aku tidak pernah lagi bertemu dengan nya. Aku belum percaya, belum bisa percaya ternyata semua sosial media yang aku punya sudah di blokir oleh nya. Kenapa? Apa salahku? Apa tidak boleh aku mengetahui bagaimana kabarmu? Apa ini keinginanmu? Padahal hanya lewat sosial media itu aku bisa mengetahui bahwa kamu baik baik saja. Tetapi kenapa kamu tidak mengizinkan aku mengetahui kabarmu sedikit saja. Aku tidak pernah mengganggu, Aku tidak pernah mencoba menghubungimu. Yang aku lakukan hanya memperhatikan lewat sosial media mu, sebelum kamu memutuskan untuk memblokir akun ku. Harusnya aku sadar, harusnya aku mengerti, bahwa hal ini memang keinginan mu, keinginanmu sedari dulu. Memang kamu sudah tidak bahagia lagi apabila menjalin hubungan bersamaku, seperti yang kamu sampaikan di ujung telephone itu. Rasanya dada ini masih sesak mengingat kejadian itu, kejadian terburuk. Aku tidak pernah merasakan sehancur ini. Ya Allah aku mengetahui apabila ini memang kesalahanku, aku terlalu memakai perasaan tanpa aku menggunakan logika. Ya Allah.. bantu aku.. bantu aku menyadari semuanya, bahwa pria itu memang menginginkan perpisahan, bahwa pria itu memang tidak pernah menyayangiku. Ya Allah.. aku terlalu di buai oleh kebahagiaan yang ternyata itu palsu. Aku teringat di kala itu, Dia beserta keluarganya menghampiri rumahku, dan pria itu mengakui kesalahan kesalahan yang telah di buat olehnya, Ya Allah kala itu rasanya dadaku sangat sesak, sakit. Aku melihat kembali pria yang telah mengkhianati ku di depan rumahku dengan keluarganya.. Dia menghampiriku, dengan berlinang airmata, sebelumnya aku tidak pernah melihat dia seperti itu, Ya Allah.. rasanya tidak tega melihat nya. Sosok pria yang gagah dan tidak pernah terlihat sedih apabila di depanku, tiba tiba dia menghampiri dan memohon untuk aku kembali. Rasanya hati ini begitu sakit. Aku tidak tega Ya Allah.. Tapi aku takut apabila dia mengulangi kesalahannya kembali. Dengan bantuan keluarganya, yang mencoba memberi ku pengertian pelan pelan aku mengerti. Pelan pelan aku bisa menerima pria itu kembali masuk di hidupku lagi. Ya Allah... Ternyata selama ini aku di bohongi, ternyata kala itu dia datang ke rumahku tidak karena dia menyayangiku, tidak ya Allah. Itu karena paksaan semata. Apa yang sebenarnya ada di pikiran nya? Apa dia tidak pernah memikirkan perasaanku sedikit saja? Apa dia tidak pernah sekali saja mengerti bahwa aku sakit. Bahwa aku sangat tersakiti karena perbuatannya. Aku tidak pernah membenci nya, aku juga tidak pernah membenci keluarga nya. Walaupun mereka telah menyakitiku, telah mempermainkan perasaanku. Padahal aku sudah mulai sayang, mulai jatuh cinta dengan kesederhanaan keluarga nya. Aku sudah mencoba masuk perlahan di keluarga itu. Tapi kenapa? Tapi kenapa mereka begitu tega memperlakukan ku seperti ini? Aku perempuan. Aku punya perasaan. Apa yang mereka lakukan karena untuk kebahagian pria itu? Karena memang pria itu tidak menginginkan ku, tidak menginginkan ku masuk menjadi keluarga nya. Apabila memang benar ini terbaik untukmu, bisa membuat mu bahagia, dan bisa menumbuhkan kebahagiaan dan senyuman di bibirmu lagi yang sempat hilang ketika kamu menjalin hubungan bersamaku, aku tak apa. Seperti surat Al- Ikhlas yang tidak ada kata ikhlas di dalamnya. Jika perpisahan itu mau mu, jika aku harus mengorbankan perasaanku untuk kamu dan keluargamu bahagia. Jika itu bisa menjadi amal ku kelak, dan menjadi dirimu bahagia, maka tak apa-apa. La haula wala quwwata illa billah. Semoga kamu dan keluarga mu selalu bahagia, dan selalu di lindungi oleh Allah. Kalian sangat berharga untuk ku, sangat aku sayangi seperti keluargaku sendiri. Semoga suatu saat kita di pertemukan lagi, dengan keadaan Bapak kalih ibu tasih sehat, aku sangat menyayanginya. Aku sangat menyayangi mereka seperti aku sangat menyayangi orangtuaku. Mama sama ayah. Apabila perpisahan ini bisa membuat kamu dan keluargamu bahagia, aku lakukan itu. Terimakasih telah mengajarkan kesederhanaan, dan juga memberiku luka yang sangat meradang, sakit. Salam hangat peluk sayang untuk bapak kalih ibu ting rumah. Semoga mereka baik-baik saja. Aku sangat merindukannya. Tak lupa keluargaku yang sangat aku sayangi, terimakasih semangatnya selama ini.
Komentar
Posting Komentar