Kenapa Kamu Menilai Aku Seperti Itu
Pagi ini langit rumah ku mendung, gelap, dingin. Rasanya bumipun juga ikut mengetahui akan perasaanku yang sekarang. Langit ikut bersedih dan tidak mengeluarkan kecerahannya di pagi hari, seperti perasaanku, seperti hati ku yang saat ini juga sedang sangat bersedih. Masih hal yang sama, pria itu. Aku memang gadis lembek, yang masih ingusan, sangat cupu seperti pandanganmu terhadapku, seperti pandangan pria itu melihatku. Ketika di bentak pun aku hanya bisa diam lalu pasti menangis, bukannya aku lemah, bukannya aku mau dianggap seperti itu olehmu, tetapi aku begitu karena aku ingin menjagamu lewat perasaan. Dulu.. kamu begitu mengerti ku, begitu mengerti perasaanku, bahkan untuk membentak ku saja kamu tak tega. Aku bagaikan mutiara, gadis lembut di hadapanmu. Tapi sekarang hinaan dan makian kasar adalah makanan sehari hari bila aku berkomunikasi denganmu. Dulu kamu tidak tega melihat tetesan air mata ku yang jatuh walau hanya setetes. Tetapi kenapa sekarang kamu menjadi alasan tetesan air mata itu mengalir deras? Sekarang kamu menganggapku wanita yang pintar bersandiwara, wanita yang sukan bermain peran, wanita yang selalu mengeluh saat sakit, wanita yang selalu menangis jika membicarakan hubungan kita, wanita buruk yang tidak punya teman, dan wanita yang paling kamu hinakan saat ini. Sebenarnya apa yang ada dipikiran mu saat kamu menganggap ku seperti itu? Bukannya aku adalah wanita yang sangat menyayangimu, wanita yang sangat mengkhawatirkanmu apabila darah tinggimu naik, wanita yang sangat keras apabila kamu tidak mau bangun sholat subuh, wanita yang menangis jika kamu menangis dan jika kamu tertawapun aku masih menangis, mencemaskanmu apabila tertawa mu itu berlebihan dan berujung kesedihan apabila teman2mu bersikap kurang baik terhadapmu, wanita yang selalu kamu bentak2 pagi siang malam, yang selalu kamu acuhkan ketika bahagia dan jika kamu sedang cemas kamu datang dengan keadaan marah2 seakan aku lah penyebab itu, aku takut. Kenapa kamu tidak sadar, aku lah wanita mu yang selama ini menemanimu, baik buruk aku tetap di sampingmu, cobaan godaan hinaan orang disekitar aku tetap berjalan berdampingan denganmu. Kenapa kamu memperlakukan aku seperti wanita yang tidak punya perasaan? Kenapa kamu mencaci menghina ku setega itu? Sebenarnya aku tidak bersedih karena perpisahan ini, aku juga tidak pernah membenci mu atas perlakuanmu.. Yang membuat aku tertegun dan sakit sangat meradang adalah perlakuan mu setelah perpisahan ini terhadapku, kamu menceritakan aku seakan akan aku tidak pernah menjadi sosok istimewa di hidupmu, dengan lantang dan percaya diri kamu menceritakan semuanya, seakan akan yang ada pada diriku hanya keburukan,, tidak kah sedikit kamu mengingat kebaikanku?
Komentar
Posting Komentar